Berita Daerah Gaya Hidup

Lingkungan Sosial Dinilai Jadi Fokus Utama dalam Pelestarian Bahasa Aceh

Ketua tim peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Uswatun Nisa. Foto: Dok. Pribadi.
Banda Aceh | Posindependent.com – Ketua tim peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Uswatun Nisa menyebutkan lingkungan sosial memiliki pengaruh sangat besar, dalam membentuk minat berbahasa Aceh di kalangan generasi muda khususnya di kota besar Banda Aceh.
“Di antara tiga unsur lingkungan sosial yang diteliti, lingkungan sekolah memberi kontribusi paling kuat,” katanya, Rabu, 14 Oktober 2026.
Karena itu, tambah Uswa, upaya pelestarian bahasa Aceh dinilai perlu memprioritaskan penguatan lingkungan sosial, terutama di lingkungan sekolah. Temuan ini diperoleh dari hasil survei terhadap lebih dari 300 generasi muda berusia 13 sampai 28 tahun di Kota Banda Aceh.
“Penelitian ini dilakukan pada Agustus hingga September 2026. Berangkat dari kekhawatiran terhadap kondisi bahasa Aceh,” ujarnya.
Dikatakan Uswa, berdasarkan skala vitalitas bahasa UNESCO, bahasa Aceh berada pada level 3, menandakan penurunan penggunaan secara signifikan, terutama di kalangan anak muda yang beralih ke bahasa Indonesia atau bahasa lain.
Ia dan tim kemudian memfokuskan kajian pada minat berbahasa karena minat dipandang sebagai titik awal sebelum seseorang mau menggunakan, mempelajari, dan mempertahankan sebuah bahasa.
“Lingkungan sosial yang diukur dalam penelitian ini mencakup tiga unsur yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.
Uswa menambahkan, lingkungan keluarga dilihat dari seberapa sering bahasa Aceh dipakai di rumah serta dukungan orang tua. Di sekolah dilihat dari sikap guru, penggunaan bahasa Aceh di sekolah atau kampus, dan ruang untuk mengenal budaya Aceh. Serta lingkungan masyarakat dilihat dari kebiasaan berbahasa Aceh di sekitar tempat tinggal, termasuk pergaulan sebaya, dan rasa nyaman menggunakannya.
“Sekolah ternyata menjadi ruang yang paling terasa pengaruhnya bagi anak muda. Ketika guru menghargai bahasa Aceh, teman tidak keberatan memakainya, dan sekolah memberi ruang untuk mengenal budaya Aceh, minat mereka ikut tumbuh. Tetapi keluarga dan masyarakat juga sangat berperan, jadi ketiganya harus bergerak bersama,” ujar Uswatun Nisa.
Tak hanya lingkungan sosial, dalam penelitiannya, Uswatun Nisa dan tim juga meneliti pengaruh dari konten tiktok berbahaa Aceh terhadap minat generasi muda menggunakan bahasa Aceh. Hasilnya, lingkungan sosial dan konten media sosial berbahasa Aceh sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berbahasa Aceh.
Namun, kata dia, pengaruh lingkungan sosial masuk kategori besar, sedangkan konten media sosial berada pada kategori sedang. Keduanya bersama-sama menjelaskan sekitar 75,7 persen variasi minat berbahasa Aceh pada responden.
“Intensitas menonton konten media sosial berbahasa Aceh diukur melalui empat hal, yaitu frekuensi, durasi, perhatian, dan penghayatan. Dari keempatnya, penghayatan dan perhatian paling kuat mewakili konstruksi ini. Artinya, yang menentukan bukan sekadar banyaknya konten berbahasa Aceh, melainkan seberapa dalam anak muda memperhatikan dan memaknainya,” jelas Uswa.
Menurut Uswa, minat berbahasa Aceh pada kalangan generasi muda sendiri diukur dalam empat bentuk. Expressed interest adalah ketertarikan yang dinyatakan, misalnya rasa suka dan senang mendengar bahasa Aceh. Manifest interest atau keterlibatan nyata, seperti memakai bahasa Aceh dalam percakapan dengan keluarga atau teman dan di media sosial.
Selanjutnya, tested interest adalah pengetahuan dan kemampuan aktual, termasuk keinginan menambah kosakata. Inventoried interest adalah kecenderungan memilih aktivitas yang berkaitan dengan bahasa Aceh, seperti mengikuti akun berbahasa Aceh dan mendukung pelestariannya.
“Konten berbahasa Aceh di media sosial tetap penting, tetapi belum cukup. Pelestarian sebaiknya dimulai dari menyediakan ruang nyata, di keluarga, sekolah, dan masyarakat, agar generasi muda terbiasa dan nyaman menggunakan bahasa Aceh setiap hari,” kata Uswatun Nisa.
Penelitian tersebut tidak dilakukan sendiri oleh Uswa, melainkan turut didampingi oleh Wanda Surianto, Maghfira Faraidiany, Cut Lusi Chairun Nisak, dan Dr. Febri Nurrahmi, dengan pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) USK.***
Iklan
Iklan
bir ali
× Advertisement
× Advertisement