ACEH UTARA | Posindependent.com – Sebelas bulan setelah banjir besar melanda Aceh Utara, warga di Kecamatan Sawang masih mengandalkan jembatan kayu darurat sepanjang 80 meter untuk menghubungkan empat gampong. Kondisi ini menyulitkan aktivitas petani, guru, dan siswa, terutama ketika hujan deras meningkatkan debit sungai dan memaksa warga membongkar jembatan demi menyelamatkan material kayu.
Warga membangun jembatan tersebut secara swadaya karena belum memiliki akses penyeberangan yang memadai. Namun, setiap kali arus sungai menguat, mereka harus kembali menyambung jembatan agar masyarakat dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Tokoh Masyarakat Gampong Gunci, Usman Abdullah, mengatakan jembatan itu melayani warga Gampong Gunci, Blang Cut, Kubu, dan Lhok Cut. Ia meminta pemerintah segera membangun jembatan yang lebih aman dan mampu bertahan saat debit sungai meningkat.
“Kami mohon kepada Bapak Presiden, gubernur dan bupati Aceh Utara. Segera bangun jembatan penyeberangan yang memadai di kawasan terpencil ini,” kata Usman, Senin 12 Oktober 2026.
Jembatan Darurat Sawang Berulang Kali Terancam Arus Sungai
Menurut Usman, warga terpaksa membongkar jembatan kayu setiap kali hujan deras meningkatkan debit sungai. Langkah tersebut mereka lakukan untuk mencegah arus membawa material jembatan.
Ia menilai kondisi itu menunjukkan kebutuhan mendesak akan akses penyeberangan yang lebih layak. Selain menghambat mobilitas warga, jembatan darurat tersebut juga menimbulkan risiko keselamatan bagi masyarakat yang harus melintasi sungai.
“Sudah hampir setahun sama sekali belum tersentuh oleh pemerintah. Setiap musim hujan tiba jembatan ini pasti terseret arus. Dampaknya kepada petani, guru dan siswa tidak bisa menyeberang,” ujarnya.
Usman juga mengungkapkan bahwa warga pernah mengalami kecelakaan atau musibah saat menyeberangi sungai, terutama ketika hujan deras membuat arus semakin kuat.
Meski menghadapi risiko, masyarakat tetap menggunakan jalur tersebut karena belum memiliki pilihan penyeberangan lain yang memadai untuk menghubungkan keempat gampong.
Petani Harus Memutar Lewat Bireuen, Guru dan Siswa Ikut Terdampak
Kerusakan akses penyeberangan turut membebani petani yang hendak membawa hasil panen ke luar kawasan. Usman mengatakan sebagian petani harus melewati Kabupaten Bireuen untuk menjangkau jalur yang bisa dilalui.
Perjalanan memutar itu membutuhkan waktu dan biaya tambahan. Menurut Usman, pengeluaran tersebut dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh petani dari hasil pertanian mereka.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan muncul ketika warga membutuhkan pertolongan medis. Usman mengatakan masyarakat terkadang harus menggotong orang sakit secara bersama-sama untuk menyeberangi sungai.
“Ketika ada orang sakit, harus kami gendong ramai-ramai untuk menyeberangi sungai ini,” tuturnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa jembatan di Sawang bukan sekadar sarana penghubung antarkawasan. Akses itu juga berkaitan dengan keselamatan warga, pelayanan kesehatan, kegiatan ekonomi, dan mobilitas masyarakat sehari-hari.
Saifannur, guru SDN 3 Sawang, turut merasakan dampak keterbatasan akses tersebut. Ia mengatakan hujan deras dan kenaikan debit sungai dapat menghambat perjalanannya menuju sekolah sehingga berisiko membuatnya terlambat mengajar.
Hambatan serupa juga berpotensi memengaruhi perjalanan siswa yang harus menyeberangi sungai untuk mengikuti kegiatan belajar.
“Kami sangat berharap pemerintah segera membangun jembatan yang layak. Sehingga saat hujan deras tidak lagi terbawa arus, dan para siswa serta guru juga mudah menuju ke lokasi pendidikan,” kata Saifannur.
Warga berharap pemerintah segera menindaklanjuti kebutuhan pembangunan jembatan yang lebih aman dan memadai di kawasan tersebut.***


