Aceh Tamiang | Posindependent.com – Masjid Nurul Iman di Gampong Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, kini memiliki sumber listrik mandiri. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 7.320 Wp dipasang untuk menjaga ketersediaan arus, terutama ketika jaringan utama terputus akibat banjir dan tanah longsor.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad, mengatakan kondisi tersebut menjadi persoalan kerap dihadapi masyarakat di wilayah pelosok Aceh Tamiang. Saat bencana terjadi, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga digunakan sebagai lokasi evakuasi, posko pengungsian, hingga tempat penyaluran bantuan bagi warga terdampak.
Program Wakaf Panel Surya tersebut, katadia, merupakan kolaborasi Kementerian Agama RI, Bank Indonesia dan Konsorsium NUUR+. Bantuan diserahkan kepada pengurus Masjid Nurul Iman pada 6 Oktober 2026.
“Pemanfaatan energi surya melalui kolaborasi wakaf ini adalah bukti konkret bahwa ekoteologi adalah aksi nyata. Kementerian Agama terus berupaya mendorong lahirnya masjid-masjid ramah lingkungan yang mandiri energi, tangguh bencana, dan memberi kemaslahatan yang luas bagi masyarakat,” katanya, Rabu, 7 Oktober 2026.
Abu Rokhmad menambahkan, masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat adaptasi, mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di tengah masyarakat. Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), terdapat 710.441 masjid dan musalla yang terdaftar secara nasional.
“Kementerian Agama menargetkan 44 persen masjid dan 28 persen musalla dapat bertransformasi menjadi eco-masjid, dengan menerapkan prinsip ramah lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
PLTS di Masjid Nurul Iman, sambung dia, diproyeksikan menghasilkan energi sekitar 532 kilowatt hour (kWh) per bulan. Sistem tersebut juga diperkirakan mampu menekan biaya listrik masjid hingga Rp768 ribu per bulan dan mengurangi emisi karbon sekitar 478 kilogram.
Keuchik Gampong Babo, Khairi Ramadhan, mengatakan wilayahnya kerap mengalami pemadaman listrik ketika banjir terjadi. Kondisi itu membuat keberadaan sumber energi alternatif di masjid menjadi penting bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan solar panel ini. Wilayah kami seringkali terkendala listrik padam saat terjadi banjir. Adanya pasokan listrik mandiri di masjid ini tidak hanya membantu penerangan ibadah, tetapi juga memberikan ketenangan bagi warga,” katanya.
Selain pemasangan panel surya, kata dia, pemuda dan warga Babo juga mendapat pelatihan teknis. Mereka dibekali pengetahuan mengenai pemeliharaan harian, pembersihan panel hingga penanganan gangguan teknis ringan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yudo Herlambang, mengatakan program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, termasuk melalui optimalisasi wakaf.
“Wakaf panel surya yang dikelola secara produktif dapat mendukung kemandirian ekonomi umat, menciptakan efisiensi, memperluas manfaat sosial, serta pada akhirnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya.
Ia menambahkan, program tersebut dijalankan Konsorsium NUUR+ yang terdiri dari Wakaf Al Azhar, MOSAIC, Enter Nusantara dan Wakaf Salman. Pendanaan berasal dari donasi yang dihimpun karyawan Bank Indonesia, sementara Enter Nusantara menjadi mitra pelaksana instalasi sekaligus edukasi masyarakat.
Dewan Pembina MOSAIC sekaligus Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), M. Ali Yusuf, mengatakan pemanfaatan wakaf untuk energi terbarukan menunjukkan bahwa wakaf dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
“Potensi wakaf itu sangat luas. Wakaf kini tidak hanya berdampak pada kemaslahatan umat dan kemakmuran masjid, tapi juga punya peran besar dalam menjaga kelestarian bumi,” imbuhnya.***


