Aceh Utara | Posindependent.com – Gelombang pasang disertai abrasi pantai kembali menerjang kawasan pesisir Aceh Utara dalam dua hari terakhir. Dampaknya, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, sementara akses jalan utama penghubung antarkecamatan ikut terdampak akibat terjangan air laut.
Wilayah yang terdampak abrasi meliputi Kecamatan Seunuddon, Samudera, dan Muara Batu. Kondisi paling parah dilaporkan terjadi di beberapa gampong yang berada dekat garis pantai.
Keuchik Gampong Lhok Puuk, Rajuli, mengatakan abrasi di daerahnya semakin memburuk sejak beberapa tahun terakhir dan kini mencapai titik yang mengkhawatirkan. Menurutnya, rumah-rumah warga yang sebelumnya rusak akibat banjir besar akhir tahun lalu kembali roboh setelah diterjang pasang laut.
“Air pasang kali ini cukup kuat hingga merendam hunian sementara korban banjir, meski jaraknya sekitar 150 meter dari pantai,” ujar Rajuli, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, di Dusun Barat sebagian badan jalan kini sudah tertutup air laut. Sementara di Dusun Teungoh, abrasi terus mengikis daratan sehingga jarak antara permukiman dan bibir pantai menyusut drastis.
Rajuli menyebut abrasi mulai terjadi sejak 2022, namun hingga saat ini belum ada penanganan permanen seperti pembangunan tanggul laut maupun pemasangan batu pemecah ombak.
Selain mengancam permukiman, genangan air laut juga menyebabkan warga kesulitan memperoleh air bersih karena sumur mereka tercemar air asin.
“Sebagian masyarakat masih bertahan di rumah masing-masing, tetapi kebutuhan air bersih menjadi persoalan utama,” katanya.
Ia mengaku pemerintah provinsi sebenarnya telah meninjau lokasi dan menerima laporan masyarakat, namun realisasi penanganan disebut baru direncanakan pada 2027.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata guna mencegah abrasi semakin meluas. Menurut Rajuli, bantuan geobag tidak cukup efektif jika tidak disertai pembangunan tanggul laut yang permanen.
Sementara itu, di Kecamatan Muara Batu, Keuchik Gampong Keude Bungkaih, Muhammad, menyampaikan bahwa ratusan rumah warga telah hilang akibat abrasi dan banjir pasang yang terus terjadi.
“Sekitar 227 rumah sudah hilang, sedangkan 20 rumah lainnya kini berada dalam kondisi terancam,” ujarnya.
Ia mengatakan warga mulai khawatir tinggal di rumah mereka karena sebagian halaman permukiman telah berubah menjadi aliran air atau kuala baru. Jalan yang sebelumnya ditimbun pun kembali terkikis gelombang laut.
Muhammad berharap pemerintah segera memperbaiki aliran Krueng Ajo serta membangun batu pemecah ombak agar air laut tidak terus masuk ke kawasan permukiman.
“Kalau tidak segera ditangani, kami khawatir kampung ini perlahan akan hilang,” katanya.
Di Kecamatan Samudera, abrasi juga menyebabkan kerusakan lahan pertanian di Gampong Sawang dan Blang Nibong. Puluhan hektare sawah dilaporkan rusak setelah terendam dan tergerus air laut.
Sekretaris Gampong Sawang, Rusli Hasyem, mengatakan sebagian besar lahan sawah yang sebelumnya dimanfaatkan warga kini tidak lagi bisa digunakan.
“Sekitar 70 persen dari total 120 hektare sawah sudah rusak, termasuk tanaman yang ditanam masyarakat,” jelasnya.
Menurut Rusli, setelah banjir besar pada November 2025 lalu, warga sempat memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam semangka, timun, dan ubi jalar. Namun kini area itu kembali rusak akibat abrasi yang semakin meluas.
Ia menambahkan, jika tidak segera dilakukan penanganan, abrasi dikhawatirkan akan terus melebar hingga mengancam wilayah lain di sekitar pesisir Aceh Utara.


