Berita Daerah

Wabup Aceh Utara: Jembatan Permanen Sawang 170 Meter Masuk Tahap Lelang

Siswa melintasi jembatan kayu darurat di Sawang, Aceh Utara, di tengah rencana pembangunan jembatan permanen
Siswa melintasi jembatan kayu darurat di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, saat warga menanti pembangunan jembatan permanen. Foto/rina

ACEH UTARA | Posindependent.com – Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, menyebut pemerintah pusat telah menganggarkan pembangunan jembatan permanen sepanjang 170 meter di Kecamatan Sawang pada tahun ini. Proyek jembatan rangka baja tersebut kini memasuki tahap lelang, sementara warga dari empat gampong masih mengandalkan jembatan kayu darurat untuk menyeberangi Krueng Sawang.

Tarmizi menyampaikan perkembangan itu pada Selasa 13 Oktober 2026, merespons keluhan masyarakat yang membutuhkan akses penyeberangan lebih aman setelah banjir merusak infrastruktur di kawasan tersebut.

Menurut dia, jembatan permanen menjadi kebutuhan penting bagi warga, termasuk petani, guru, siswa, dan masyarakat yang setiap hari bergantung pada jalur penyeberangan itu.

86 KK Korban Banjir Gunci Aceh Utara Masih Menanti Pembangunan Huntap

Sebelumnya, Polri sempat membangun jembatan Bailey untuk membantu memulihkan akses warga setelah banjir. Namun, derasnya arus Krueng Sawang kembali merusak jembatan tersebut.

“Beberapa waktu lalu pascabanjir, sempat dibangun jembatan Bailey oleh Polri. Hanya saja saat hujan deras kembali ambruk lantaran tergerus debit air Krueng Sawang yang tinggi,” kata Tarmizi.

Jembatan Bailey Sawang Akan Dibangun Kembali

Selain proyek permanen, pemerintah juga mendorong pembangunan ulang jembatan Bailey yang ambruk. Tarmizi mengatakan material konstruksi dan abutmen atau struktur penyangga jembatan sudah tersedia di lokasi.

11 Bulan Pascabanjir, Warga Sawang Aceh Utara Masih Andalkan Jembatan Kayu

Ia berharap pihak yang menangani pekerjaan tersebut segera melanjutkan pembangunan agar masyarakat tidak terus bergantung pada jembatan kayu darurat.

“Siapapun yang mengerjakannya, jembatan Bailey yang baru itu harus segera dibangun. Hanya saja catatannya disambung dengan yang sudah ada,” ujarnya.

Menurut Tarmizi, pembangunan kembali jembatan Bailey perlu segera mendapat tindak lanjut karena warga membutuhkan jalur penyeberangan yang lebih memadai sembari menunggu realisasi jembatan permanen.

Disdukcapil Aceh Utara Dorong Pemanfaatan IKD dalam Pelayanan Pendaftaran Perkawinan

Meski demikian, jadwal pelaksanaan pembangunan ulang jembatan Bailey belum disebutkan secara pasti dalam keterangan yang disampaikan.

Empat Gampong Masih Mengandalkan Jembatan Kayu

Saat ini, warga masih menggunakan jembatan kayu hasil swadaya sebagai akses utama menyeberangi sungai. Tarmizi menyebut masyarakat dari Gampong Lhok Cut, Gunci, Blang Cut, dan Kubu memanfaatkan jalur tersebut untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Kondisi itu membuat keberadaan jembatan menjadi persoalan penting bagi mobilitas masyarakat, terutama ketika hujan deras meningkatkan debit sungai dan mengganggu akses penyeberangan.

Prabowo dan El-Sisi Perkuat Kerja Sama, Indonesia-Mesir Bidik Dagang US$5 Miliar

“Kami sangat berharap siapapun yang membangun jembatan Bailey yang baru itu disegerakan. Mengingat masyarakat selama ini sudah sangat bersabar,” tutur Tarmizi.

Ia juga meminta masyarakat memahami proses penanganan infrastruktur pascabencana. Tarmizi mengatakan dirinya bersama pemerintah daerah telah berupaya membantu masyarakat sejak bencana terjadi, termasuk dalam penanganan akses penyeberangan Gunci-Sawang.***

Dapatkan pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan praktis bersama PosIndependent. Ikuti saluran resmi kami di WhatsApp Channel disini untuk menerima notifikasi berita pilihan setiap hari.

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Aceh, Hujan Lebat Berpotensi Meluas

Iklan
Iklan
bir ali
× Advertisement
× Advertisement