Aceh Utara | Posindependent.com – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh Utara bersama masyarakat dan pelajar menanam 800 pohon pada Jumat,11 September 2026 di sejumlah titik Aceh Utara. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memulihkan lingkungan setelah banjir besar pada November 2025 sekaligus menguatkan gerakan penghijauan dalam rangka Milad ke-800 Samudera Pasai.
Penanaman menyasar kawasan sekitar makam bersejarah Sultanah Nahrasiyah, wilayah pesisir pantai, hingga lingkungan kawasan perkantoran pemerintahan.
Para peserta menanam pohon jenis ketapang kencana (Terminalia mantaly) sebagai bagian dari gerakan penghijauan dan pemulihan lingkungan.
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil atau Ayah Wa mengatakan banjir besar pada 25 November 2025 menyebabkan banyak pohon besar di Aceh Utara hilang.
Menurutnya, penanaman kembali menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas udara bagi masyarakat.
“Sekitar 800 pohon kita tanami ulang.”
Ayah Wa mengatakan pemerintah juga menyiapkan penanaman mangrove dan kelapa di kawasan pesisir serta bantaran sungai. Langkah tersebut diarahkan untuk membantu menghadapi ancaman abrasi yang semakin mengkhawatirkan di wilayah Aceh Utara.
Ia mengajak masyarakat ikut menjaga pohon yang telah ditanam dan memperluas gerakan penghijauan di lingkungan masing-masing.
“Jika lingkungan kita jaga, manfaatnya cukup banyak, salah satunya dapat mengurangi risiko bencana,” kata Ayah Wa.
Aceh Utara Mulai Pulihkan Alam Pascabencana
Kapolres Lhokseumawe AKBP Ahzan menilai penanaman 800 pohon di Aceh Utara menjadi bagian dari gerakan go green untuk mengembalikan tutupan hijau setelah bencana banjir.
Ia menyebut banjir besar akhir tahun lalu berdampak terhadap banyak vegetasi di Aceh, termasuk di Aceh Utara.
“Kita mulai bangkit untuk kembali menanam pohon, menghijaukan bumi dan melestarikan alam,” ujarnya.
Selain penanaman pohon, Ahzan meminta masyarakat tidak menggunakan metode pembakaran ketika membuka lahan.
Menurut dia, pembukaan lahan dengan cara membakar memang dianggap mudah dan murah, tetapi praktik tersebut dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
“Kita terus mengimbau dan menyosialisasikan kepada masyarakat agar tidak membakar lahan,” katanya.
Pelajar Ikut Menanam dan Merawat Pohon
Gerakan penghijauan itu juga melibatkan pelajar. Belgi Beizana Herin, siswa SD Negeri 3 Muara Batu, mengatakan kesadaran menjaga lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini.
Ia menilai pohon tidak hanya menghasilkan udara yang lebih bersih dan sejuk, tetapi juga menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa seperti burung, kupu-kupu dan lebah.
“Ini namanya menjaga keanekaragaman hayati. Kami berjanji akan merawat pohon yang ditanami,” kata Belgi.
Ia kemudian mengajak masyarakat menanam pohon di sekitar rumah dan ikut merawatnya setelah penanaman.
Menurut Belgi, gerakan tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni setiap orang menanam setidaknya satu pohon.
Ajakan itu menjadi pesan penting dari kegiatan penanaman 800 pohon Aceh Utara, pemulihan lingkungan tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi membutuhkan perawatan dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah juga mendorong penanaman vegetasi di kawasan pesisir dan bantaran sungai sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan lingkungan Aceh Utara setelah bencana.***


