Aceh Utara | Posindependent.com – Permainan tradisional geunteut yang mulai jarang dimainkan kembali diperkenalkan kepada masyarakat dalam rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai di Lapangan Kantor Bupati Aceh Utara, Rabu 9 September 2026.
Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata serta Ekonomi Kreatif Aceh Utara menampilkan geunteut bersama sejumlah permainan tradisional lainnya. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali warisan permainan masyarakat Aceh kepada generasi muda.
Geunteut dimainkan menggunakan dua batang bambu atau kayu yang memiliki ukuran cukup tinggi. Pemain berdiri di atas pijakan pada kedua batang tersebut kemudian berjalan dengan menjaga keseimbangan, sehingga sekilas permainan ini menyerupai egrang.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata serta Ekonomi Kreatif Aceh Utara, Zulkifli, mengatakan geunteut kini semakin jarang dimainkan dan terancam hilang akibat perubahan zaman.
“Permainan ini hampir punah. Kita ingin mengenalkan kembali kepada anak-anak dan pelajar agar mereka mengetahui sekaligus bisa memainkan permainan tradisional Aceh,” kata Zulkifli.
Geunteut dan Jejak Kehidupan Masyarakat Aceh
Menurut Zulkifli, geunteut bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Permainan tersebut merupakan warisan yang diturunkan dari generasi sebelumnya atau eundatu.
Dalam sejarah masyarakat, geunteut disebut memiliki fungsi yang lebih luas. Masyarakat pada masa lalu memanfaatkannya untuk membantu melintasi sungai hingga mengejar hewan liar. Dalam kondisi tertentu, alat permainan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk melindungi diri maupun membantu proses penyelamatan.
Namun, perubahan pola hidup dan berkembangnya berbagai bentuk hiburan modern membuat permainan tradisional seperti geunteut semakin jarang terlihat di tengah masyarakat.
Kondisi itu membuat pengenalan kembali permainan tradisional menjadi penting, terutama kepada anak-anak dan generasi muda yang semakin jauh dari permainan warisan daerah.
Selain geunteut, kegiatan tersebut juga memperkenalkan layang tunang, permainan tradisional yang disebut sudah lama tidak lagi dimainkan, khususnya di wilayah Aceh Utara.
Jangan Sampai Hilang dari Generasi ke Generasi
Zulkifli berharap momentum Milad ke-800 Samudera Pasai tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah, tetapi juga mendorong generasi muda mengenal kekayaan budaya Aceh.
Menurutnya, permainan tradisional perlu terus diperkenalkan dan dikembangkan agar tidak berhenti sebagai cerita dari generasi terdahulu.
“Harapannya permainan tradisional Aceh ini bisa terus diberdayakan dan dimainkan oleh generasi berikutnya sehingga tidak hilang,” ujarnya.
Pelestarian geunteut pada akhirnya bukan hanya soal mempertahankan sebuah permainan. Lebih dari itu, keberadaannya menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan, kreativitas, dan warisan budaya masyarakat Aceh agar tetap dikenal di tengah perubahan zaman.***


