ACEH UTARA – Hujan deras mengguyur wilayah Aceh Utara dua hari terakhir, menyebabkan arus Sungai Krueng Sawang meluap dan memutus total akses jalan utama penghubung Kabupaten Aceh Utara dengan Bireuen di Gampong Sawang, Kecamatan Sawang. Dampaknya, aktivitas masyarakat di sejumlah gampong terganggu.
Jalan lintas provinsi yang sebelumnya menjadi jalur utama kini berubah menjadi aliran sungai. Titik kerusakan berada di sekitar jembatan Bailey dibangun oleh Polri sebagai pengganti jembatan rangka baja yang hampir ambruk dan kemudian hanyut saat banjir besar akhir tahun lalu. Kini, jembatan darurat tersebut kembali miring akibat derasnya arus.
Akses tersebut merupakan satu-satunya jalur vital bagi warga di Gampong Lhok Cut, Kubu, Blang Cut, dan Gunci untuk menuju pusat Kecamatan Sawang, baik untuk bekerja, bersekolah, maupun mengangkut hasil pertanian.
Camat Sawang, Mazinuddin, mengatakan peristiwa itu terjadi sejak hujan deras mengguyur kawasan tersebut, menyebabkan sungai meluap dan menggerus badan jalan hingga putus total.
“Akibatnya masyarakat tidak bisa beraktivitas normal. Bahkan sekitar 50 persen anak-anak tidak dapat bersekolah karena akses penyeberangan lumpuh,” katanya, Rabu, 1 April 2026.
Camat Sawang juga mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat memperparah abrasi sungai dan mengancam keberadaan gampong di sepanjang aliran Krueng Sawang.
“Jika tidak segera ditangani, gampong-gampong di sini bisa hilang perlahan akibat terkikis arus sungai. Selain itu, jika ada warga yang sakit, akan sulit untuk dievakuasi,” katanya.
Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah cepat, terutama pembangunan pengaman tebing sungai sepanjang sekitar lima kilometer serta jembatan permanen guna memulihkan akses vital masyarakat di Kecamatan Sawang.
Keuchik Gampong Kubu, Iswandi, mengatakan warga di empat gampong kini sangat bergantung pada rakit untuk beraktivitas, meski jumlahnya terbatas hanya satu unit.
“Airnya cukup deras dan berbahaya, tapi karena tidak ada akses lain, warga terpaksa menggunakan rakit,” ujarnya.
Ia menyebutkan, biaya penyeberangan berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp15 ribu per sekali jalan. Rakit tersebut tidak hanya digunakan untuk menyeberangkan warga, tetapi juga kendaraan, pelajar, pekerja, hingga hasil panen masyarakat.
Menurutnya, kondisi ini sangat berdampak terhadap perekonomian warga karena biaya distribusi hasil pertanian menjadi lebih mahal.
“Kalau kondisi seperti ini terus, tentu sangat mengganggu ekonomi masyarakat. Kami berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen,” imbuhnya.


