Aceh Utara – Posindependent.com – Program makan bergizi gratis (MBG) terus diperluas dan menjangkau daerah pelosok di Aceh Utara. Meskipun medan yang sulit dan jarak tempuh cukup jauh, tidak menjadi tantangan dalam pendistribusian bagi masyarakat khususnya peserta didik.
Salah satu pendistribusian MBG daerah pelosok Aceh Utara yaitu di Sekolah Dasar (SD) Negeri 4 Kuta Makmur, Gampong Panton Rayeuk I. Anak-anak buruh tani serta perkebunan yang mayoritas dari keluarga tidak mampu tersebut, menyambut antusias makanan bergizi itu saat dibagikan petugas.
Kepala Sekolah SD Negeri 4 Kuta Makmur, Cut Putri Nurul Wahida mengatakan semenjak adanya MBG di daerah pelosok Aceh Utara itu tepatnya pada 31 Maret 2026 lalu, sangat membantu anak-anak bersekolah di sana. Mengingat orang tua murid yang menempuh pendidikan mayoritas masyarakat kurang mampu.
“Dengan MBG ini sangat terbantu, sehingga kebutuhan gizi mereka terpenuhi. Sehingga proses belajar mengajar lebih konsentrasi,” kata Cut, Rabu, 15 Juli 2026.
Cut menambahkan para murid SD tersebut sangat antusias sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto karena sudah meluncurkan program MBG
“Mereka sangat terbantu, asupan gizi terpenuhi. Sebelumnya sering tidak sarapan, tetapi dengan adanya MBG ini sangat membantu,” tuturnya.
Dikatakan Cut, jumlah siswa di SD Negeri 4 Kuta Makmur yang terletak di pedalaman Aceh Utara itu sebanyak 96 orang. Pihak sekolah berharap, MBG terus berlanjut sehingga murid di sekolah itu terpenuhi asupannya dan prestasi semakin meningkat, dengan demikian mampu melahirkan generasi berkualitas di masa mendatang.
” Di sini kami ada 8 orang guru dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan honor enam orang,” kata Cut.
Sementara itu, Koordinator Kecamatan Kuta Makmur untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), T Rafsanjani mengatakan jumlah penerima manfaat MBG secara keseluruhan di kecamatannya sebanyak 9.163 dari empat dapur.
“Dari 9.163 jumlah penerima manfaat, 766 diantaranya terdapat di wilayah pelosok yaitu delapan sekolah,” kata Rafsan.
Rafsan menyebutkan, yang menjadi kendala dalam penyaluran di wilayah pelosok yaitu akses jalan dan jarak tempuh lebih dari pada petunjuk teknis (juknis) yang ditentukan yakni enam kilometer.
“Alhamdulillah, meskipun demikian selama ini pendistribusian MBG tetap berjalan lancar dan aman berkat kerja sama semua pihak,” imbuhnya.


