Aceh | Posindependent.com – Pelatihan Pembelajaran Adaptif Tunarungu digelar di SLB Negeri Aneuk Nanggroe pada 7–10 April 2026. Mahasiswa Magister (S2) Pendidikan Khusus Universitas Negeri Malang, Rizki Azkia, S.Pd., memimpin langsung kegiatan ini sebagai bagian dari program akademiknya. Kepala sekolah Samhudi, S.Pd., membuka pelatihan yang diikuti tenaga pendidik untuk meningkatkan kualitas layanan bagi siswa tunarungu.
Kegiatan berlangsung selama empat hari dengan pendekatan intensif dan berbasis praktik. Para guru mengikuti sesi pelatihan yang dirancang untuk memperkuat kompetensi pedagogik, khususnya dalam menyusun strategi pembelajaran adaptif.
Kepala sekolah Samhudi mengatakan bahwa pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan tenaga pendidik di sekolah tersebut. Ia menilai kehadiran akademisi memberikan perspektif baru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Pelatihan ini memberi bekal penting bagi guru kami, terutama yang bukan berlatar pendidikan luar biasa, agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif,” ujarnya.
Penguatan Kompetensi Guru melalui Pendekatan Praktis
Rizki Azkia merancang Pelatihan Pembelajaran Adaptif Tunarungu sebagai implementasi mata kuliah Pengembangan Profesi. Ia memfokuskan materi pada peningkatan kemampuan guru dalam memahami karakteristik siswa tunarungu serta mengembangkan strategi pembelajaran yang inklusif.
Selama pelatihan, peserta mempelajari teknik asesmen kemampuan bahasa, penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI), serta pengembangan media pembelajaran berbasis visual. Materi disampaikan secara sistematis dan langsung diterapkan dalam praktik.
Rizki menegaskan bahwa hambatan komunikasi di kelas rungu dapat diatasi melalui pendekatan visual dan adaptasi materi yang tepat.
“Dengan strategi yang sesuai, siswa tunarungu tetap dapat berprestasi dan berkembang secara optimal,” jelasnya.
Kolaborasi Akademisi dan Praktisi Perkuat Layanan Pendidikan
Pelatihan berlangsung dalam beberapa tahapan. Pada hari pertama dan kedua, peserta mendalami karakteristik disabilitas rungu serta teknik asesmen awal. Hari ketiga diisi dengan workshop penyusunan PPI dan pembuatan media pembelajaran. Sementara hari keempat difokuskan pada simulasi pembelajaran adaptif dan evaluasi.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka aktif berdiskusi dan mencoba langsung metode yang diajarkan.
Kolaborasi antara mahasiswa pascasarjana dan tenaga pendidik ini diharapkan mampu menciptakan perubahan nyata dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru diharapkan lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran yang aksesibel dan efektif.
Melalui Pelatihan Pembelajaran Adaptif Tunarungu, SLB Negeri Aneuk Nanggroe menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Pihak sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut melalui kerja sama dengan perguruan tinggi. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pendidikan inklusif berjalan optimal dan berkelanjutan.
Program ini membuktikan bahwa sinergi antara dunia akademik dan praktisi pendidikan mampu menghadirkan solusi konkret di lapangan. Pelatihan Pembelajaran Adaptif Tunarungu menjadi langkah strategis dalam menciptakan pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa.***


