SAWANG | Posindependent.com – Peringatan HUT RI ke-81 di Sawang, Kabupaten Aceh Utara, berlangsung semarak melalui pagelaran seni budaya Aceh yang menghadirkan empat grup Rapai dan dua grup Seudati selama dua malam. Pertunjukan tersebut menarik warga dari berbagai gampong untuk berkumpul sekaligus menikmati kesenian tradisional Aceh dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Kegiatan berlangsung di kawasan pusat Kecamatan Sawang dan digagas oleh Geuchik Kemukiman Sawang Selatan bersama Muspika Kecamatan Sawang. Para penggagas memadukan perayaan kemerdekaan dengan upaya memberikan ruang bagi kesenian tradisional Aceh untuk tampil di tengah masyarakat.
Empat grup Rapai ambil bagian dalam pagelaran tersebut. Penampilan itu mempertemukan para seniman dari sejumlah gampong, termasuk kelompok yang datang dari wilayah Sawang dan sekitarnya.
Salah satu penampilan mempertemukan Grup Rapai Rimueng Meujanggot dari Gampong Gunci yang dipimpin Syeh Kuya dengan Syeh Raman dari Paloh Cot Trieng, Lhokseumawe.
Pertunjukan lainnya menghadirkan Jugi Tapa dari Gampong Riseh Tunong pimpinan Syeh Mis yang tampil berhadapan dengan Grup Rapai Rincong Meupucok dari Gampong Paya Rabo Timu pimpinan Syeh Mun.
Rapai Uroh dan Seudati Hidupkan HUT RI ke-81 di Sawang
Selain Rapai Uroh, pagelaran HUT RI ke-81 di Sawang juga menghadirkan seni Seudati. Syeh Yan Puteh dan Syeh Gani dari Lhokseumawe turut tampil dengan atraksi khas Seudati Aceh.
Tabuhan Rapai dan gerakan Seudati menciptakan suasana yang berbeda dalam perayaan kemerdekaan. Masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati hiburan, tetapi juga menyaksikan langsung kesenian Aceh yang diwariskan secara turun-temurun.
Antusiasme warga terlihat dari kehadiran masyarakat dari berbagai gampong. Mereka memadati lokasi kegiatan dan mengikuti pertunjukan hingga suasana perayaan semakin ramai.
Mukim Sawang Selatan Tgk. Rajuddin, yang dikenal dengan sapaan Waled Rabo, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan itu telah diwacanakan dan digagas oleh para Geuchik di Kemukiman Sawang Selatan. Muspika Kecamatan Sawang kemudian turut memberikan dukungan untuk menyukseskannya.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan karena pagelaran melibatkan unsur masyarakat dan seniman dari sejumlah wilayah.
Bukan Sekadar Hiburan, Jadi Ruang Pelestarian Budaya
Pagelaran seni dalam rangka HUT RI ke-81 di Sawang memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan masyarakat. Kegiatan tersebut membuka ruang pertemuan antara masyarakat, pelaku seni, dan generasi yang tumbuh di tengah perubahan zaman.
Rapai Uroh dan Seudati menjadi bagian dari kekayaan seni budaya Aceh yang terus diwariskan. Ketika kesenian tersebut tampil di ruang publik, masyarakat dapat menyaksikan secara langsung bentuk seni tradisi yang selama ini hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Kehadiran berbagai grup dari sejumlah gampong juga memperlihatkan adanya ruang interaksi antarpelaku seni. Pertemuan tersebut sekaligus memperkuat silaturahmi masyarakat melalui kegiatan yang berangkat dari tradisi lokal.
Momentum kemerdekaan akhirnya tidak hanya berlangsung dalam bentuk seremoni. Masyarakat Sawang mendapatkan ruang berkumpul sekaligus menikmati seni tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Aceh.
Para penggagas kegiatan berharap kecintaan terhadap seni tradisi terus tumbuh, terutama di kalangan generasi muda. Mereka juga berharap Rapai Uroh dan Seudati tetap mendapat ruang untuk berkembang sehingga tidak kehilangan tempat di tengah perubahan budaya dan perkembangan zaman.
Generasi Muda Jadi Bagian Penting Pelestarian
Pelestarian seni tradisional membutuhkan keterlibatan generasi penerus. Pertunjukan di ruang publik dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali kesenian Aceh kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan kaum muda.
Kegiatan di Sawang menunjukkan bahwa perayaan hari kemerdekaan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya daerah. Masyarakat menikmati hiburan, sementara para seniman memperoleh ruang untuk mempertunjukkan kemampuan mereka.
Bagi masyarakat, kehadiran Rapai dan Seudati juga menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda dibandingkan hiburan modern. Suara tabuhan Rapai, lantunan syair, serta gerakan Seudati menjadi bagian dari suasana perayaan yang mengikat masyarakat dalam satu ruang kebersamaan.
Dengan demikian, HUT RI ke-81 di Sawang tidak hanya menjadi momentum memperingati kemerdekaan Indonesia. Perayaan tersebut juga menghadirkan panggung bagi seni budaya Aceh dan mempertemukan masyarakat melalui tradisi yang masih hidup.
Pagelaran empat grup Rapai dan dua grup Seudati menjadi penanda bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan sekaligus dengan menjaga warisan budaya. Dari Sawang, seni tradisi kembali hadir di tengah masyarakat melalui panggung yang mempertemukan seniman dan warga.***


